Kamis, 19 April 2012

Perjanjian Perdagangan Lintas batas

Rabu, 18 April 2012

Perjanjian 600 Ringgit Rugikan Indonesia

Pontianak
 – 
Perjanjian perdagangan lintas batas (border trade agreement) antara Indonesia dan Malaysia dinilai berbagai kalangan di Kalbar tidak lagi relevan dengan realitas yang terjadi.

Isi perjanjian yang mengatur tata niaga perbatasan kedua negara sebesar 600 Ringgit bagi setiap pemegang Pas Lintas Batas (PLB) per bulan dan mengenakan pajak impor bagi transaksi yang melebihi kuota, lebih menguntungkan masyarakat di Serawak Malaysia daripada warga Kalbar.

Kepala Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan dan Kerja sama (BKPK) MH Munsin mengakui tata niaga perbatasan memang sudah selayaknya direvisi, mengingat kondisi perekonomian masyarakat perbatasan yang mulai membaik.

“Idealnya, batas transaksi jual-beli sebesar 1.500 Ringgit agar mampu mengangkat derajat perekonomian masyarakat di wilayah perbatasan Kalbar,” jelasnya.

Sebenarnya pemerintah pusat telah mengusulkan draf revisi perjanjian dalam forum Sosek Malindo, namun pembahasan oleh delegasi kedua negara belum memasuki tahap final.

Lebih lanjut Munsin mengatakan sejak diberlakukan tahun 67 silam, border trade agreement (BTA) telah direvisi pada tahun 1970, namun rencana revisi kedua yang dimulai sejak tahun 1994 lalu, hingga saat ini belum rampung.

Dari 16 PLB tradisional di Kalbar yang menerapkan aturan perjanjian perdagangan lintas batas, 5 di antaranya sedang diusulkan untuk menjadi PLB resmi. Namun perlakuan khusus hanya berlaku pada daerah yang berada di lini 1 yakni berbatasan darat langsung dengan negara tetangga.

“Sebagian besar masyarakat perbatasan di Kalbar seperti di PLB Entikong Kabupaten Sanggau membeli kebutuhan sembako di negara bagian Serawak Malaysia Timur,” tutur mantan PLT Sekda Kalbar ini.

Namun belakangan menjadi celah bagi pemegang Pas Lintas Batas (PLB) untuk memasok gula dan mengedarkan keluar dari lini 1, sehingga dikategorikan gula ilegal atau gula selundupan.

Bahkan praktik penyelundupan gula kian marak seiring lemahnya pengawasan dari aparat dan di bagian lain akibat ketidakmampuan pemerintah menyuplai kebutuhan gula bagi masyarakat Kalbar. (dna)

Sumber: http://www.equator-news.com

Minggu, 15 April 2012

Wabup Lepas 15 Pasukan Ekspedisi Perbatasan

NUNUKAN- Wakil Bupati Nunukan Hj Asmah Gani, Jumat (13/4) pagi kemarin melepas 15 pasukan tim ekspedisi khatulistiwa didaerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Pelepasan dilakukan melalui upacara di depan Pos Angkatan Laut di Kecamatan Sebatik.

Dalam sambutannya saat menjadi inspektur upacara, pihaknya berharap dengan kegiatan ekspedisi khatulistiwa oleh TNI dengan melakukan penjelajahan melewati patok-patok perbatasan antara Negara ini dapat memberi banyak manfaat.

“Kami harapkan dengan adanya kegiatan penjelajahan ini, disamping tetap menjaga patok atau tapal batas yang semakin hari semakin bergeser, juga dapat menghapus ketimpangan atau kesenjangan ekonomi masyarakat perbatasan dengan warga negara tetangga,” katanya.

Komandan Kodim Dandim 0911/NNK, Letkol Inf Heri Setya Kusdiananta yang turut hadir dalam upacara tersebut menjelaskan bahwa rencana awal dari tim penjelajah ekspedisi khatulistiwa ini diikuti oleh 25 personil. Namun karena kondisi medan yang sulit menjadi pertimbangan sehingga jumlah anggota tim dikurangi menjadi 15 orang yang terdiri dari Marinir, Kopasus, Paskas dan Raider 500.

“Jadi rencana awalnya tim penjelajah ini ada 25 personil pasukan elit, namun mengingat kondisi medan yang tidak memungkinkan, sehingga dikurangi menjadi 15, karena ini dapat mempercepat setiap pergerakan mereka, kan kalau banyak terkadang harus saling menunggu jika menemui halangan yang cukup sulit,” ujarnya.

Dijelaskan, salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah memetakan kondisi perbatasan yang menjadi tugas TNI sebagai penjaga perbatasan. Kegiatan seperti ini rencananya akan dijadikan sebagai program rutin dilakukan disetiap tahunnya.

“Kita tidak ingin jika nantinya kita turun untuk sekedar melihat wilayah perbatasan namun kita tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup tentang perbatasan kita sendiri dan ini merupakan upaya pertahanan NKRI,” ujarnya. (kh)

Sumber: Korankaltim.co.id - Minggu, 15 April 2012

Tank Malaysia Siaga di Perbatasan Kalimantan

TEMPO.CO, Balikpapan - Komando Daerah Militer VI Mulawarman menuturkan, di perbatasan Indonesia-Malaysia, sudah berjajar tank-tank jenis PT–91 buatan Polandia yang beratnya hingga 50 ton. Tank-tank milik Malaysia ini memang dipersiapkan untuk pengamanan perbatasan di sepanjang Kalimantan. “Tank-tank Malaysia sudah siap di perbatasan Kalimantan,” kata Panglima Kodam Mulawarman Mayor Jenderal Subekti, Selasa, 10 April 2012.

Bukan hanya itu. Malaysia, kata Subekti, juga membangun infrastruktur jalan penghubung di wilayahnya sendiri untuk memudahkan pergerakan pasukan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dengan situasi seperti itu, Subekti memaklumi jika saat ini pemerintah melakukan pengadaan tank Leopard buatan Jerman yang bobotnya hingga 62 ton. Batalyon tank Leopard itu nantinya akan ditempatkan di perbatasan, baik di Bulungan, Sangata, serta Malinau. Secara total, batalyon tank Bulungan akan memiliki sebanyak 44 Leopard. Keseluruhan pengadaan perlengkapan dan sarana batalyon bisa dituntaskan pada Oktober 2013 mendatang.

Subekti mengatakan batalyon tank Leopard itu diperlukan untuk menjaga kedaulatan serta kewibawaan Indonesia di mata negara tetangga. Dia menilai tank tempur Kodam Mulawarman jenis AMX–13 dan panser Sarasin, Saladin, dan Perret, sudah ketinggalan zaman. “Bila dibandingkan tank Malaysia, seperti mainan saja tank TNI. Dalam kategori strategi militer, tank TNI sudah dianggap tidak ada, saking tuanya,” katanya.

Subekti memastikan keberadaan batalyon Leopard akan mampu meningkatkan kewibawaan Indonesia di mata negara-negara tetangga. Alat tempur darat tersebut mampu menyaingi persenjataan tank tempur Malaysia.

Selain batalyon Leopard, pengamanan perbatasan juga diperkuat oleh pembentukan skuadron helikopter tempur yang berpusat di Berau. Skuadron ini nantinya dilengkapi oleh 16 pesawat helikopter serang buatan PT Dirgantara Indonesia, Agusta 129 Mangusta dari Italia, dan Super Cobra buatan Amerika Serikat.

Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, hasil pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya di perang Vietnam. Senjatanya adalah senapan mesin gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.

TNI, kata Subekti, menginginkan Super Cobra sebagai pilihan utama, di samping juga heli serbaguna Agusta Westland buatan Italia. Bahkan, kalau dapat izin, ia juga menginginkan heli Apache buatan Amerika Serikat karena dianggap sangat cocok untuk pengamanan perbatasan.

Untuk pengamanan perbatasan di darat, akan dilakukan oleh tiga batalyon gabungan infanteri dan artileri yang memiliki persenjataan anti-tank yang dapat membidik tank dari jarak 6 kilometer serta multiple launch rocket system (MLRS) Astros II buatan Brasil. Kata Subekti, seluruh persenjataan dan personel baru ini akan tersedia secara bertahap mulai tahun 2012 ini.

Menurut Subekti, ketersediaan alat utama sistem senjata dan personel di perbatasan itu akan sangat berdampak pada perimbangan kekuatan Indonesia dengan negara tetangga, terutama dengan negara yang berbatasan langsung di Kalimantan. “Saat ini kita memang tidak memiliki musuh yang eksplisit, yang nyata. Tapi setiap hari kita dilecehkan di perbatasan dengan adanya patok yang digeser-geser,” ujarnya. 

Selasa, 10 April 2012 | 11:32 WIB
Sumber:  tempo.co.id

Kopassus Sisir Perbatasan RI-Malaysia

JAKARTA - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) menggelar Ekspedisi Khatulistiwa 2012.  Dalam ekspedisi tersebut, selama tiga bulan pasukan elit TNI AD itu akan menyusuri wilayah di Pulau Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Selain itu, Tim Ekspedisi juga akan masuk ke pedalaman Kalimantan.

Kepala Penerangan Kopassus, Letkol (Inf) Taufik Sobri, mengatakan bahwa ekspedisi itu melibatkan 977 orang. "Dari Kopassus ada 200-an," papar Sobri di sela-sela acara lomba menembak bagi wartawan sebagai rangkaian acara peringatan hari ulang tahun Kopassus ke-60 di Markas Kopassus, Cijantung Jakarta Timur, Minggu (14/4).

Dipaparkannya, ekspedisi itu sudah dimulai pada 3 April lalu dan akan berakhir pada 10 Juli mendatang. Namun dalam ekspedisi itu Kopassus juga melibatkan pihak lain.

"Ada Paskhas TNI AU dan Marinir. Tim ekspedisi juga melibatkan tim ahli dari perguruan tinggi dan kelompok pecinta alam," papar perwira menengah di korps elit TNI pemilik semboyan Tribuana Chandraca Satya Dharma itu.

Terdapat tiga tim dalam ekspedisi tersebut. Yakni Tim Penjelajah, Tim Peneliti dan Tim Komunikasi Sosial. Tim Penjelajah bertugas membuka jalan di wilayah perbatasan dengan Malaysia maupun pedalaman di hutan Kalimantan.

Tim Penjelajah juga dibekali peralatan lengkap untuk komunikasi dan GPS. "Kita masuk ke titik-titik perbatasan. Bukan patok yang kita jadikan acuan karena itu bisa digeser. Kita mengacu ke koordinat titik perbatasannya," ucapnya.

Dari Kopassus terdapat 47 anggotanya yang terlibat dalam Tim Penjelajah. Mereka adalah tentara yang memiliki spesialisasi jelajah rawa, laut, sungai dan pantai atau sering disingkat Tim Ralasuntai.

Sementara Tim Peneliti bertugas menginventarisir potensi Sumber Daya Alam (SDA) di wilayah perbatasan ataupun pedalaman Kalimantan. Tim Peneliti di ekspedisi itu akan mengambil sampel tanah dan kandungan di dalamnya, serta tumbuhan yang berpotensi untuk dimanfaatkan.

Ada pun Tim Komunikasi Sosial akan masuk ke masyarakat yang tingal di perbatasan maupun pedalaman. "Kita akan identifikasi persoalan masyarakat di perbatasan. Misalnya mengapa mereka menjadi begitu tergantung pada Malaysia," paparnya.

Ditambahkannya, temuan dari lapangan akan dilaporkan ke Pos Komando (Posko) ekspedisi di Gedung Serbaguna, Makopassus. "Ada update informasi setiap hari. Setiap temuan  akan dilaporkan ke Posko di Makopassus.  Nanti akan ada output dari kami sebagai hasil ekspedisi," tuturnya.(ara/jpnn)

Minggu, 15 April 2012 , 00:15:00
Ekspedisi Khatulistiwa 2012

Rabu, 21 Maret 2012

TNI Garap Pengembangan 3 Bandara di Perbatasan

Personel TNI Angkatan Darat yang tergabung di Kodam VI Mulawarman, akan menggarap pengembangan tiga bandara di perbatasan Kalimantan Timur.

Tiga bandara itu adalah Bandara Long Apung di Malinau, Long Bawang di Nunukan, dan Bandara Data Dawai di Kutai Barat.

Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk Ishak mengutarakan, pengembangan ketiga bandara dimulai April mendatang. Total Dananya Rp 600 miliar, bersumber dari APBD Provinsi Kaltim dan APBD ketiga kabupaten itu.

"Pengembangan ini akan membuka kawasan terisolir di perbatasan," kata Awang, seusai Serah Terima Jabatan Pangdam VI Mulawarman dari Mayjen TNI Tan Aspan kepada Mayjen TNI Subekti, Selasa (20/3/2012).

TNI AD dianggap mampu, memiliki cukup personel, juga memiliki peralatan. Keputusan kerja sama ini sudah disetujui Presiden.

Ketiga bandara ini nantinya bisa didarati pesawat jenis ATR 40 dan 70, sehingga akan memperlancar distribusi sembako.

Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Subekti mengatakan, pengembangan ketiga bandara itu, semuanya dilakukan personel TNI AD. TNI memiliki peralatan berat melalui unit Denzipur. Termasuk pengangkutan alat berat ke kawasan perbatasan itu, yang akan menggunakan pesawat Hercules.

"Pengerjaan full dilakukan TNI. Ini karena susah mencari tenaga kerja untuk ditempatkan di sana," kata Subekti. 

Sumber: BALIKPAPAN, KOMPAS.com  Selasa, 20 Maret 2012 | 22:38 WIB

Selasa, 24 Januari 2012

KAWASAN PERBATASAN: Peta pengembangan dituntaskan

Selasa, 24 Januari 2012 | 11:42 WIB
JAKARTA: Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) menuntaskan  penyusunan rancangan besar pengembangan kawasan perbatasan yang juga  memuat Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) yang masuk kategori pulau yang berbatasan dengan negara lain.
 
Deputi Perekonomian Sekretariat Kabinet Retno Puji Budi Astuti mengatakan penyusunan rancangan besar untuk pengembangan kawasan perbatasan itu penting karena dari sekitar 17 ribu pulau yang dimiliki Indonesia pada saat ini, terdapat 92 pulau yang berbatasan dengan negara lain.
 
"Kalau itu tidak dituntaskan maka kondisi ini sangat mudah bagi arus keluar masuk barang illegal, baik barang yang masuk untuk menghindari bea masuk dari praktik penyelundupan, pencurian sumber daya alam berupa illegal logging dan illegal fishing), bahkan perdagangan manusia, serta konflik dengan negara tetangga," ujarnya sebagaimana dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, hari ini (24/01).
 
Dia menambahkan rancangan besar itu juga masuk program Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2012 yang akan memfokuskan pengelolaan PPKT untuk 31 pulau yang berpenghuni.
 
Selain itu, lanjutnya, pemerintah menyadari bahwa PPKT itu mempunyai keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi yang sangat penting bagi pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan serta penting untuk penyangga kedaulatan bangsa.
 
"Untuk itu Pemerintah telah melakukan berbagai upaya berbagai upaya untuk mengantisipasi hal yang merugikan bagi kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat, melalui berbagai program pada PPKT."
 
Menurut Retno, program-program pada PPKT itu ditujukan untuk pertahanan dan keamanan, kesejahteraan masyarakat, serta pelestarian lingkungan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 62/2010 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar.
 
"Menko Polhukam telah ditunjuk menjadi Ketua Tim Koordinasi Pengelolaan PPKT, dan mengoordinasikan pelaksanaan pengelolaan PPKT antar instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah," katanya lagi.
 
Dalam hal ini, tambahnya, koordinasi itu meliputi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, infrastruktur dan perhubungan, pembinaan wilayah, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi, sosial dan budaya.

Sumber:  bisnis.com


Senin, 02 Januari 2012

Sebatik Rawan Penyelundupan

SEBATIK – Menjadi beranda depan NKRI di wilayah Utara Kaltim, Kecamatan Sebatik merupakan pintu strategis sekaligus rawan masuknya barang dan aktivitas ilegal dari negara tetangga Malaysia.

“Karena itu, pengawasan dan pengamanan akan senantiasa ditegakkan. Tapi, tugas itu tentu saja tidak hanya milik Polri, tapi didukung TNI, pemerintah daerah serta tokoh masyarakat,” kata Kapolda Kaltim, Irjen (Pol) Bambang Widaryatmo di sela-sela kunjungan kerja ke Kecamatan Sebatik untuk memantau kinerja Polsek Sebatik dan Sebatik Barat.

Ditambahkan, barang dan aktivitas ilegal yang rawan itu seperti peredaran narkoba, di mana beberapa kasus juga telah diungkap jajaran Polres Nunukan, lalu dugaan aktivitas teroris, bahan peledak, trafficking serta aktivitas lainnya yang dilakukan jaringan internasional.

Yang paling kuat untuk menangkis berbagai aktivitas ilegal termasuk pengaruh narkoba, lanjut Kapolda, adalah peran serta masyarakat. Tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda bersama-sama membendung generasi muda untuk mendekati yang namanya narkoba. Lalu, melaksanakan kegiatan yang mengarah pada hal positif atau olahraga.

“Peran masyarakat juga kami harapkan untuk membendung pengaruh aktivitas negatif. Apalagi, Sebatik ini berhadapan langsung dengan Tawau-Malaysia, segala kemungkinan pengaruh yang tidak baik akan mempengaruhi generasi muda. Karena itu, salah satu pengamanan yang paling efektif adalah peran masyarakat,” lengkap Kapolda.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Nunukan AKBP Achmad Suyadi SiK menyebutkan, untuk pulau Sebatik yang telah memekarkan diri dari 2 kecamatan menjadi 5 kecamatan seyogianya perlu penambahan unit Polsek baru. Paling tidak, perlu penambahan personel demi menambah kekuatan pengawasan lebih maksimal.

Selain Kapolda, perwira Polda Kaltim lain yang turut sambangi Sebatik seperti, Karo Saarpras Kombes Pol Drs. Rochmad, Dir Sabhara Kombes Pol Drs. Bastomy sanap, SH, Dir Reskrimsus Kombes Pol Drs. Imam Sumantri Msi, Dir Lantas Kombes Pol R Nurhadi Yuwono, SiK, Dir Resnarkoba Kombes Pol Drs zulkifli, Dir Intel Kombes Pol Drs Juhartana, Dir Polair Kombes Pol Drs Sukadji MM, Dir Tahti AKBP Drs RP Argo Yuwono SiK, Dir Bimas Kombes Pol  Drs Edward Efraim Tamboto, Koorspri Kompol Anggie Yulianto P SH, SiK. Untuk diketahui, Kapolda beserta rombongan take off dari Tarakan menuju Sebatik menggunakan helikopter heli belt, dan heli Sekorsky S- 76C.

Selain bertatap muka dengan tokoh masyarakat Orang nomor satu di Polda Kaltim ini juga menyempatkan diri mengunjungi Patok III Desa Aji Kuning, Pos Pol dan beberapa fasilitas Polri lainnya. Turut hadir utusan Polisi Diraja Malaysia, LO Konsulat RI di Tawau serta tokoh masyarakat Sebatik H Herman dan H Ali, Camat Sebatik serta unsur Muspika. (ica)
 
Sumber:
NUSANTARA - KALTIM
Selasa, 20 Desember 2011 , 10:59:00
 

Tanah Surga Katanya

Nunukan


Lihat Kabupaten Nunukan di peta yang lebih besar